Pesan Sederhana

Selasa, 30 Oktober 2018

Aku sedang bersiap menuju ke bandara, saat temanku tiba-tiba mengirim pesan singkat. Dia akan mampir sebentar ke kosku, katanya. Sebenarnya aku sedikit keberatan, karena waktu check-in-ku tidak lama lagi. Tapi, apa boleh buat, dia bilang ada yang harus segera disampaikan padaku.

Dia datang dengan membawa stoples mungil terbuat dari kaca. Bagian dalamnya dihias dengan taburan glitter dan terdapat gulungan kertas berwarna hitam dengan pin berbentuk lebah. Leher stoples itu diikat dengan pita. Dia bilang, itu kado ulang tahun untukku. Benar-benar kado yang menarik, meskipun datangnya terlambat tiga bulan haha.

Dia memaksaku untuk segera membuka gulungan kertas yang ada di dalam stoples itu. Aku iyakan saja daripada berdebat dan membuatku tidak bisa segera menuju ke bandara, pikirku. Begitu ku buka gulungan kertas itu dan ku baca isinya, seketika aku menangis. Sesenggukan pula.

You are perfect just the way you are 🙂 Don’t fight battles that don’t matter. Best wishes for your continued journey!”

Dua bulan ini pikiranku sedang kalut. Berawal dari hari dimana aku membaca e-mail pemberitahuan lolos seleksi program pengabdian, yang justru membuatku minder karena merasa seperti remahan rangginang dibanding relawan lain. Ditambah lagi kebingungan untuk tetap berangkat ke daerah pengabdian dengan resiko studiku akan terkendala, atau merelakan kesempatan itu. Tapi, bukan aku namanya kalau melewatkan kesempatan seberharga itu. Dengan rasa takut, khawatir, dan antusias yang tinggi, aku memutuskan untuk mengambil kesempatan itu.

Dua bulan menahan perasaan yang campur aduk sama sekali bukan hal mudah bagiku. Harus berpura-pura baik-baik saja di depan orang lain. Hanya bisa merasakan emosi yang sebenarnya ketika sedang sendiri di kamar kos. Dan siang ini, beban yang ada di pundakku tiba-tiba terasa seperti meleleh, hanya dengan membaca pesan sesederhana itu. Aku benar-benar menangis, dan sejenak lupa kalau seharusnya aku segera menuju ke bandara.


Minggu, 4 November 2018

Pukul 5 pagi di Indonesia Tengah. Aku terbangun di kamar hotel tempatku menginap bersama dua teman relawanku. Kemarin, kami bertolak dari pulau kecil tempat kami mengabdi, salah satu pulau terluar di bagian selatan Indonesia. Teman-temanku masih tidur.

Sambil menunggu mereka bangun untuk sarapan, ku baca lagi tulisan temanku di gulungan kertas itu. Lalu, ku buka aplikasi pesan singkat di ponselku dan ku cari nama temanku di daftar kontak. Aku harus berterima kasih padanya atas pesan sederhana yang dia berikan. Aku mulai menyusun kata-kata untuknya. Tapi ternyata tidak semudah itu. Aku masih cukup emosional ketika mengingat kembali makna pesannya. Aku menangis lagi. Beruntungnya, tangisku tidak terlihat oleh teman relawanku. Aku sudah merasa lebih tenang ketika mereka bangun.

Tapi, aku kembali ingin menangis saat kami sarapan bersama. Perasaanku campur aduk. Aku masih tidak menyangka kalau minggu ini aku benar-benar telah menginjakkan kaki di salah satu daerah terluar di Indonesia. Bahagia sekali berada dalam tim yang bisa menghargai setiap anggotanya, apapun latar belakangnya. Rasanya seperti mimpi ketika kami (relawan) mendapat apresiasi yang luar biasa baik dari warga lokal di tempat kami mengabdi. Berat rasanya untuk meninggalkan daerah ini. Tapi kami harus pulang dan kembali pada rutinitas kami.


Untuk temanku, terima kasih atas pesan sederhanamu. Terima kasih telah mendengarkan ceritaku, percaya pada mimpiku, dan mendukungku atas pilihan-pilihanku.

Untuk kamu yang membaca cerita ini, terima kasih sudah hadir. Ingat, kamu pun berharga, bagaimanapun keadaanmu. Selamat menempuh perjalanan yang kamu pilih. Aku percaya, kamu pasti bisa sampai ke tujuanmu.

Candu

Aku masih ingat kali pertama kita berbicara. Di suatu malam menjelang musim hujan, di tempat latihan, di depan instrumen yang biasa ku mainkan. Saat itu, kau meminta untuk ku ajarkan cara memainkan instrumen itu. Tingkah manis yang kau perlihatkan membuatku geli dan ingin menjaga jarak denganmu.

Untungnya di latihan berikutnya kau berganti instrumen, aku jadi tak perlu susah payah untuk membuat jarak antara kita. Selanjutnya, aku tak begitu ingat apa saja yang telah kita lalui. Yang ku ingat, kita beberapa kali makan malam bersama setelah latihan. Itu pun bersama dengan teman-teman lainnya.

Entah bagaimana, setahun kemudian kita sudah menjadi dekat. Dan menjadi semakin dekat ketika ada banyak hal yang kita lakukan bersama. Latihan, makan, belajar, bersenang-senang. Rasanya tidak ada satu hari pun yang ku lewatkan tanpa bertemu denganmu.

Kita menjadi begitu dekat, hingga tak perlu mengucapkan sepatah katapun untuk saling mengerti isi pikiran satu sama lain. Kita sudah saling mengerti segala pikiran dan perasaan yang berdiri kokoh diatas akar-akarnya yang menjalar dan saling bertaut.

Kita tidak utuh. Kita hanya beruntung, sebab bisa saling mengisi bagian-bagian kosong itu dengan bagian yang kita punya. Mungkin sesekali kita pernah memberikan bagian tak utuh itu hingga tak menyisakan sedikitpun untuk diri sendiri. Mungkin?

Aku masih ingat hari di mana aku jatuh dan kesulitan untuk melangkah lagi. Kau menopangku dengan sangat kuat. Begitu kuat, hingga tak ku rasakan luka sedikitpun. Saat itu, aku benar-benar merasakan adanya dirimu. Untuk kedua kalinya di hidupku, ku rasakan kebahagiaan nyata yang sempat hilang dariku.

Esoknya, aku kembali jatuh dan tersungkur, lagi dan lagi. Maafkan aku yang tak hati-hati saat berjalan. Untungnya kau masih di sana, menemani dan terus menopangku, untuk perlahan bangkit kembali. Aku begitu bahagia. Benar-benar bahagia.

Tapi, aku lupa bahwa tak ada kepastian tentang hari esok. Tak ada jaminan bahwa hari esok akan sama indahnya dengan hari ini. Mungkin esok lebih indah, atau justru sebaliknya. Mungkin juga ini semua bisa hilang dalam sekejap.

Benar saja. Tak berselang lama, kau mulai hilang. Perlahan, mulai samar, lalu semakin kabur dan tak terlihat sama sekali. Kita tak lagi bertemu dan bertukar kabar.

Aku pun mulai patah, kemudian hancur dan benar-benar berantakan. Aku kehilangan arah. Hari-hariku menjadi kelam. Semangat hidupku pudar. Hal-hal kecil pun aku tak sanggup ku lakukan.

Pada titik ini, baru ku mengerti bahwa hadirmu bukan lagi sekedar pelengkap bagiku. Kau sudah menjadi kebutuhanku, sudah jadi canduku. Aku membutuhkanmu untuk sekedar bisa makan dengan teratur. Aku tak lagi memiliki semangat untuk bangun di pagi hari. Aku sangat bergantung padamu untuk bisa membuat hari-hariku tertata.

Sesekali aku berusaha sekuat tenaga menekan egoku dan memaksa diri untuk menghubungimu lebih dulu. Hasilnya selalu sama, pesanku akan terbalas setelah menunggu lama, tak seperti sebelumnya. Yang seperti itu terus berulang, hingga ku putuskan untuk tak melakukannya lagi. Sengaja aku tak menghubungimu lagi, kecuali kau yang menghubungiku lebih dulu, dengan maksud memberimu ruang agar tak terganggu olehku.

Selama kita berjarak, selama itu pula aku berjuang dengan kesendirianku. Aku terlalu terbiasa melakukan semuanya denganmu. Hingga ketika kau pergi, tak ku temukan sedikitpun keberanian dalam diriku. Tak mudah bagiku melawan rasa takut untuk melangkah ke luar sana seorang diri.

Cukup lama hidupku berjalan seperti itu dengan perasaan yang hampir tak pernah baik. Sangat sering ku marah padamu, karena ku rasa kau mengabaikanku. Setiap hari aku mengutuk keadaan yang telah menjauhkan kita. Menjalani hari-hari itu sungguh melelahkan.

Sampai suatu ketika, aku mulai bosan dengan amarahku yang tak berarah. Perlahan ku bawa diriku melangkah sedikit ke belakang, agar ku dapatkan sudut pandang yang lebih luas.

Dari sanalah mulai ku pahami bahwa selama ini aku terlalu banyak menuntut. Aku menaruh terlalu banyak harapan beserta segala pengabulannya padamu. Aku lupa bahwa kau juga pasti punya harapan. Aku juga mulai mengingat sebagian harapan yang pernah ku ucap. Mungkin apa yang terjadi saat itu adalah pengabulan atas harapku. Kita dijauhkan, agar aku belajar untuk berani berjalan sendiri dan menata hari-hariku sendiri.

Aku belajar banyak dari apa yang ku lalui saat itu. Terima kasih untuk semua yang kau lakukan. Kau hebat.


Aku percaya, mencari bantuan disaat kita tak sanggup melangkah sendiri adalah bagian dari keberanian. Tapi, bukan berarti kita boleh bergantung pada orang lain. Karena, pada akhirnya, diri kitalah yang paling bisa kita andalkan.

Obrolan Pukul Empat Pagi

Tadi malam, setelah menghabiskan empat hari di rumah, aku kembali ke Surabaya menggunakan travel langgananku. Kali ini aku diantar oleh Pak Jono, sopir yang memiliki sikap paling baik diantara yang lain. Beliau selalu berbicara dengan lembut dan tak pernah lupa mengkonfirmasi penumpang tiap akan menjemputnya.

Sebagai seorang kepala keluarga, aku rasa Pak Jono selalu berusaha menjalankan perannya dengan baik. Ketika dalam perjalanan mengantar penumpang, kebanyakan sopir lain akan menelepon rekan sesama sopir, kemudian bercanda tawa dan tak jarang pula berkata kasar. Tapi lain halnya dengan Pak Jono. Beliau lebih memilih menelepon anak dan istrinya.

Pernah suatu ketika, setelah menjemputku jam 5.30 pagi, Pak Jono menelepon anaknya yang masih kecil. Dia menyapa anaknya yang baru bangun dengan begitu lembut, sambil meminta maaf karena harus pergi lagi. Saat itu, aku hampir menangis.

Pagi ini, ketika penumpang di mobil tinggal aku saja, Pak Jono memulai obrolan dengan basa-basi kecil. Beliau berkata, “Sampean kosnya mana, mbak? Saya lupa e. Mbaknya kan jarang pulang hehe.”

Setelah ku jawab, beliau melanjutkan kata-katanya, “Mbak rumahnya Ponorogo, kuliah di Surabaya. Saya rumahnya Sidoarjo, anak saya kuliah di Ponorogo.”

Biasanya, obrolan tentang kuliah tak pernah menarik bagiku. Entah mengapa, tiba-tiba saja aku antusias dengan obrolan kali ini. Ku tanyakan tentang alasan putranya memilih berkuliah di Ponorogo.

Beliau bercerita, bahwa jurusan yang diimpikan putranya hanya terdapat di perguruan tinggi Islam yang ada di Surabaya, Semarang, dan Ponorogo. Dari ketiga tempat tersebut, putra Pak Jono diterima di Ponorogo.

Kata Pak Jono, “Anak saya calon guru, mbak. Ya, walaupun nantinya ndak bisa menjadi guru di sekolah, paling tidak dia bisa jadi guru untuk anak-anaknya nanti.” Aku kagum dengan pemikiran beliau, bahwa kuliah bukan hanya soal mendapatkan pekerjaan yang bergengsi, tapi juga soal bagaimana ilmu yang kita dapat bisa memberi manfaat untuk kehidupan kita.

Awalnya, putranya merasa kurang berkenan dengan hasil yang didapatnya. Baginya, semestinya pelajar asal Ponorogo-lah yang menuntut ilmu ke Sidoarjo atau Surabaya, bukan sebaliknya. Pak Jono lalu meyakinkan putranya dengan berkata, “Kuliah itu di manapun tempatnya sama saja, asalkan kamu bersungguh-sungguh. Coba jalani dulu satu tahun. Kalau tidak betah, tahun depan kita coba lagi mendaftar di Surabaya.”

Lagi, aku kagum dengan cara beliau meyakinkan putranya. Jika sebagian orangtua akan meyakinkan putranya dengan mengatakan sederet pengorbanan yang telah mereka lakukan, dan mengatakan betapa kita sangat beruntung jika dibandingkan dengan mereka dulu, lain halnya dengan Pak Jono. Beliau berusaha meyakinkan putranya tanpa adanya paksaan dan tekanan, serta tetap memberikan pilihan sesuai yang diinginkan.

Satu tahun sudah berlalu. Diluar dugaan, putranya merasa betah dan bahagia di tempatnya menimba ilmu, di Ponorogo. Saat ini, putranya sudah memasuki perkuliahan tahun keempat. Dengan bangga Pak Jono berkata, “Dia sekarang sedang magang, mbak.”

Sikap baik Pak Jono tidak hanya diberikan untuk keluarganya, namun juga kepada orang lain yang ditemuinya. Suatu ketika, pernah ada penumpang seorang mahasiswa yang membawa portofolio desainnya yang dibungkus kertas koran. Pak Jono sangat antusias melihatnya. Ketika penumpang tersebut tiba di tujuannya, Pak Jono berkata, “Saya penasaran sama isinya, mas. Sepertinya bagus sekali. Boleh tolong kirimkan fotonya nanti kalau sudah dibuka?”

Beliau punya caranya sendiri untuk mengapresiasi orang lain. Yang beliau katakan sangat sederhana memang. Tapi, dampaknya bisa begitu besar bagi yang mendengarnya.

Hari ini, di pukul empat pagi, aku banyak belajar dari seorang sopir. Belajar tentang cara berkomunikasi, sikap baik, dan tentunya tentang hidup.

Beristirahatlah Jika Memang Kau Lelah

Siang itu, tak seperti biasanya, kau tertidur di sofa. Suhu tubuhmu sangat tinggi. Sesekali kau mengigau dan tubuhmu gemetar. Tidak pernah aku melihatmu sesakit ini.

Tidak ada senyum di wajahmu. Tidak ada raut wajah bahagia yang biasa ku lihat. Kau tidak seperti biasanya. Sepertinya kau terlalu lelah.

Akhir-akhir ini, kau semakin sering bercerita tentang lelahmu. Kau berkata bahwa kau sudah tak sanggup berjalan lagi. Kau berkata bahwa kau ingin berhenti sebentar, atau mungkin seterusnya. Kau berkata bahwa kau sendirian. Tidak ada yang bersedia mendengar keluh kesahmu. Hai, kau lupa kalau ada aku?

Tapi, sepertinya kau memang sudah terlalu lelah. Kau sudah berjalan sejauh ini. Sudah bertahan sekuat yang kau bisa. Sudah berkali-kali jatuh dan bangkit kembali. Jika kini kau benar-benar merasa lelah, maka beristirahatlah.

Tak apa jika kau ingin beristirahat. Sudah saatnya kau perhatikan dirimu sendiri. Sudah cukup kau perhatikan yang lain. Beristirahatlah, sebentar saja. Ataukah kau ingin menyudahi semuanya?

***

Pagi ini, kau bersiap untuk mengistirahatkan diri. Kau kenakan pakaianmu yang paling nyaman. Dan telah ku siapkan tempat istirahat ternyaman untukmu.

Lantai di bawah tempatmu mandi sudah mengering. Matahari mulai tinggi. Sudah semakin dekat waktumu untuk beristirahat. Tidak pernah aku sesedih ini ketika kau tinggalkan.

Aku sudah selesai bersiap-siap. Sudah ku rapikan pakaianku. Tidak lupa ku pakai wewangian yang sama dengan yang kau pakai, hanya agar aku dapat merasakanmu berada di dekatku. Aku siap mengantarmu beristirahat.

***

Kau pernah berkata, jika memang sudah tiba saatnya untuk kita beristirahat, maka beristirahatlah. Sudah cukup bagi kita untuk berjalan. Benar-benar sudah cukup. Tidak kurang, tidak juga lebih.

Kau juga berkata, jika ada orang lain yang bersiap mengistirahatkan diri, maka sebaiknya ku antar dia, dan ku buat dia merasa nyaman. Karena yang dibutuhkannya hanya orang lain yang bersedia membantu bersiap-siap.

***

Minggu lalu, tawamu masih menghiburku. Hari ini, aku tidak tahu harus menghibur diri dengan cara apa. Jangan khawatirkan aku. Beristirahatlah dan buat dirimu merasa nyaman. Aku akan selalu menunggu tibanya waktu untuk kita bertemu lagi. Sampai jumpa!

Basa-Basi yang Tidak Basi

Pernahkah kamu berada dalam suatu situasi yang canggung? Kalau pernah, pasti kamu akan mencari cara untuk mencairkan suasana, bukan? Salah satu cara yang cukup sering dilakukan adalah dengan melontarkan kalimat basa-basi. Tapi, benarkah basa-basi ampuh untuk mencairkan suasana?

Belakangan ini, basa-basi justru tidak jarang membuat suasana menjadi semakin canggung. Penyebabnya adalah penggunaan penyataan atau pertanyaan yang tidak tepat. Terkadang kita merasa sok asyik dengan basa-basi yang kita lontarkan. Padahal, tanpa kita sadari basa-basi kita dapat menimbulkan ketidaknyamanan pada lawan bicara.

Berada di tingkat akhir perkuliahan dengan masa studi yang sudah melebihi mahasiswa kebanyakan, membuatku menjadi sasaran empuk dari basa-basi yang membosankan. Berbagai pertanyaan klasik mulai dari “Kapan sidang?” hingga “Kapan wisuda?” sangat sering dilontarkan kepadaku. Mungkin mereka bertanya dengan maksud ingin menunjukkan kepeduliannya. Tapi, mereka tidak tahu bahwa pertanyaan mereka mudah membuatku merasa was-was dan kalut.

Dua minggu yang lalu, salah seorang temanku menanyakan hal serupa. Dia menghubungiku melalui fitur direct message di Instagram. Tapi, ada yang berbeda dengan yang satu ini. Dia bertanya dengan kalimat yang tidak biasa.

“Eh, aku lihat dokumentasi wisuda anak-anak UKM kok belum ada kamu sebagai objek, ya?”

Cara bertanya yang menurutku sangat tidak biasa. Aku kagum, dia bisa bertanya dengan cara yang tidak pernah terpikir olehku, cara yang tidak begitu memancing kepanikanku. Ku lontarkan candaan untuk menjawab pertanyaannya.

Tapi, ternyata rasa panikku tidak sepenuhnya hilang. Aku bingung akan menjawab rasa ingin tahunya dengan cara apa nanti. Sebagian besar orang yang menanyakan hal serupa menganggap orang-orang sepertiku sebagai pecundang. Padahal, aku menempuh masa perkuliahan hingga selama ini juga bukan tanpa pertimbangan yang matang.

“Hahaha. Bisa saja kamu. Ada rencana luar biasa lagi ini sepertinya?”

Belum hilang kekagumanku pada pertanyaan yang sebelumnya, dia sudah membuatku semakin kagum dengan caranya merespons yang sama sekali tidak ku duga. Biasanya pertanyaan seputar sidang skripsi dan wisuda akan langsung membuat tubuhku gemetar. Tapi tidak kali ini. Respons yang dia berikan justru membuatku semangat karena secara tidak langsung menunjukkan bahwa dia percaya kalau aku selalu punya rencana.

“Aku kagum dengan orang-orang yang menunda atau tidak sengaja tertunda kelulusannya karena suatu alasan tapi tetap punya tujuan dan rencana hidup. Bukan yang tidak mengusahakan apapun atau tidak memiliki dampak positif bagi dirinya sendiri atau sekitar.”

Aku suka caranya melihat orang-orang sepertiku. Pemikirannya tidak seperti kebanyakan orang yang ku temui, yang berpendapat bahwa kami yang tidak lulus kuliah tepat waktu adalah pecundang, pemalas, dan tidak memikirkan masa depan. Memang ada yang seperti itu. Namun sebenarnya, banyak pula dari kami yang sengaja menunda kelulusan karena memiliki rencana masa depan yang tidak seperti kebanyakan orang.

Salah satu alasan yang membuat kami menunda kelulusan adalah keinginan kami untuk menyiapkan bekal yang lebih matang untuk kami bawa ke kehidupan pasca kampus nantinya. Kami memang tidak lulus tepat waktu, tapi bukan berarti kami bersantai ria. Kami sedang mempelajari bidang tertentu yang akan kami tekuni setelah lulus nanti. Karena kami merasa bahwa kesempatan belajar lebih terbuka ketika kami masih berstatus sebagai mahasiswa. Bagi kami, ketika sudah berstatus sarjana, tuntutan hidup pasti akan berubah, di mana kami akan lebih fokus untuk mencari pekerjaan.

“Sejauh aku mengenalmu, aku yakin kamu orang yang seperti itu.”

Aku dan temanku ini sudah berteman sejak lima tahun yang lalu. Tapi, masih ada begitu banyak cerita yang belum kami bagi satu sama lain. Dari sedikit cerita yang dia ketahui tentangku, aku bersyukur bahwa dia memilih untuk melihatku dari sudut pandang yang lebih positif, bahwa dia mengerti kalau setiap orang memiliki preferensi yang berbeda.

***

Basa-basi dengan melontarkan pertanyaan seputar studi memang tidak sepenuhnya salah. Menunjukkan kepedulian terhadap orang lain pun memang baik. Tapi, perlu diperhatikan pula bagaimana kondisi lawan bicara kita. Karena, tidak semua orang bisa menangkap maksud baik yang ingin kita sampaikan. Salah-salah, niat baik kita justru berbalik menjadi pemantik luka bagi orang lain.

Dunia memang tidak sepenuhnya berisi orang baik. Setiap harinya, akan selalu ada kisah baru yang membuat kita tidak nyaman, dan sebaiknya semua orang bisa memahami itu. Tapi, menjadi bagian dari kisah baik milik orang lain tidak ada salahnya, bukan? Yuk, ciptakan suasana yang nyaman ketika berinteraksi dengan orang lain.

Musim Panas yang Adem

Beberapa hari terakhir, cuaca di Kota Surabaya mulai panas. Rata-rata suhu udara pada siang hari sudah mencapai 34°C. Panasnya cuaca di Surabaya mengingatkanku pada suatu Sabtu di bulan Juli 2015. Saat itu, aku sedang tergabung di salah satu kegiatan sosial-pendidikan yang diadakan oleh AIESEC Bangkok University, bersama dengan 19 relawan dari berbagai negara lain. Aku tinggal di Thailand selama sebulan. Lain kali akan ku ceritakan lebih lanjut tentang kegiatan ini.

Hari itu adalah Sabtu kedua yang ku jalani di Thailand. Libur di hari Sabtu dan Minggu selalu kami manfaatan untuk menjelajah berbagai tempat wisata di Thailand. Jatah libur pertama ini kami habiskan di Provinsi Ayutthaya, sebuah provinsi yang ditetapkan sebagai ibukota Thailand sebelum Bangkok.

Bepergian di musim panas saat sedang puasa ternyata cukup menantang. Iya, hari itu bulan Ramadhan sudah berjalan selama dua minggu. Layar ponselku menunjukkan suhu udara di Ayutthaya yang mencapai 43°C siang itu. Pantas saja cuaca terasa begitu terik. Matahari seperti berada tepat di atas kepala.

Sebelumnya, kami telah membuat janji untuk bertemu di hostel tempat kami menginap. Rupanya kami datang terlalu pagi, jadi kami belum bisa check in. Setelah menitipkan barang bawaan kami di resepsionis, kami bergegas mencari moda transportasi yang bisa mengantar kami menuju beberapa destinasi yang berada dalam daftar perjalanan.

Satu-satunya transportasi yang memungkinkan saat itu hanyalah tuk-tuk, moda transportasi tradisional khas Thailand. Sebagai budget traveller, kami sangat menghindari penggunaan tuk-tuk karena ongkosnya yang cukup mahal. Namun, apa boleh buat, dengan tuk-tuk­ pulalah akhirnya kami menempuh perjalanan menuju destinasi pertama kami, Wat Yai Chai Mongkol.

Wat Yai Chai Mongkol merupakan salah satu candi terpenting di provinsi ini. Tidak seperti candi-candi lain di Ayutthaya, candi yang satu ini masih aktif sebagai tempat tinggal para biksu. Wat Yai Chai Mongkol juga cukup terkenal karena di tempat ini terdapat patung Buddha yang sedang berbaring. Indahnya tempat ini membuatku semangat menjelajah hingga ke salah satu puncak bangungan candi yang di dalamnya terdapat ruang untuk berdoa.

Namun ternyata, semangatku tidak bertahan lama. Setelah keluar dari area Wat Yai Chai Mongkol, aku dan salah seorang temanku yang sedang berpuasa mulai dehidrasi. Karena masih ada beberapa destinasi lain yang akan kami tuju, kami memutuskan untuk membatalkan puasa.

Teman-teman kami yang non muslim kebingungan melihat kami yang tiba-tiba minum air. Maklum, di hari sebelumnya, mereka sudah berusaha keras memahami penjelasan kami tentang ibadah puasa Ramadhan yang dijalankan umat Islam. Ketika aku dan salah satu temanku membatalkan puasa, salah satu teman relawan kami refleks berkata “You told me that you are fasting today. But why are you drinking?” (“Kamu berkata padaku bahwa kamu berpuasa hari ini. Tapi kenapa kamu minum?”) Tidak ingin timbul kesalahpahaman, kami berdua pun menjelaskan alasan kami membatalkan puasa.

Aku tertegun mendengar pertanyaan mereka. Pertanyaan yang sangat sederhana, namun begitu memperlihatkan betapa mereka peduli pada kami yang muslim. Mereka bermaksud baik, berusaha mengingatkan kami akan kewajiban kami dalam menjalankan puasa Ramadhan.

Hari itu, aku mulai mengerti bahwa perbedaan itu indah. Kami, 20 orang relawan, memiliki latar belakang budaya yang sangat berbeda. Namun ternyata, perbedaan ini seperti tidak berarti. Aku bahagia telah mengenal mereka yang bisa berlapang dada menghadapi perbedaan yang begitu besar. Mereka membuatku belajar, bahwa perbedaan bukan penghalang untuk kita bisa berjalan beriringan.

Salah Jurusan

Cerita-cerita yang akan ku bagikan melalui blog ini berawal dari momen ketika aku sadar bahwa aku salah jurusan. Aku mulai menyadarinya saat memasuki perkuliahan semester 2 (atau 3, aku tidak ingat dengan pasti). Saat itu, aku merasa bahwa jurusan yang ku ambil bukanlah bagian dari diriku.

Ketika pertama kali menyadari bahwa aku salah jurusan, aku kecewa. Tapi aku tidak tahu harus menujukan kekecewaan itu kepada siapa. Saat itu, aku marah pada semuanya. Aku menyalahkan keadaan, menyalahkan orangtuaku, keluargaku, teman-temanku, hingga guru BK di SMA yang menyarankan aku masuk ke jurusan ini.

Menyalahkan Sekitarku

Aku menyalahkan orangtuaku yang tidak berusaha untuk menggali minat dan bakatku lebih dalam lagi. Aku menyalahkan keluargaku yang dengan mudahnya menyuruhku melanjutkan studiku di jurusan ini, dibanding jurusan lain yang saat itu seleksinya berhasil ku lalui dengan baik. Aku menyalahkan teman-temanku yang menganggapku mengambinghitamkan “salah jurusan” sebagai pembelaanku atas prestasi kuliah yang tidak maksimal. Aku menyalahkan guru BK di SMA atas saran mereka yang hanya berdasarkan nilai rapor, bukan dari usaha mereka untuk mengenaliku lebih dalam.

Berusaha Memaafkan

Yang membuat amarahku mereda adalah pemahamanku bahwa setiap manusia akan terus memiliki ketidaktahuan, termasuk mereka. Bisa saja mereka menyarankanku masuk ke jurusan ini karena yang mereka tahu nilaiku bagus. Mereka tidak tahu bahwa nilai bagus saja tidak cukup. Mereka tidak tahu bahwa memilih jurusan itu bukan semata-mata untuk mengejar prospek kerja yang bagus. Mereka tidak tahu kalau aku memiliki ketertarikan yang mendalam dibidang lain. Atau mungkin mereka lupa bahwa aku lebih menonjol dibidang lain.

Hal lain yang membuat amarahku mereda adalah perasaan bahwa aku tidak ingin membuat orang-orang di sekitarku, terutama orangtuaku, terlihat jahat. Dengan terus menyalahkan mereka, sama artinya aku memperkuat asumsiku bahwa mereka telah melakukan kesalahan besar padaku. Padahal, aku tahu bahwa apa yang terjadi padaku bisa jadi sangat wajar, mengingat mereka pun memiliki ketidaktahuan tentang pemilihan jurusan.

Perlahan, amarahku pada sekitarku mulai mereda. Tapi kekecewaanku belum berakhir. Aku berbalik menyalahkan diri sendiri. Andai saja saat itu aku lebih berani menyampaikan keinginanku. Andai saja saat itu aku lebih banyak mencari tahu tentang jurusan yang ingin ku masuki. Pikiran seperti itu terus bertahan selama satu tahun lebih.

Kekhawatiranku

Aku tidak pernah bercerita tentang “salah jurusan” pada keluargaku. Aku merasa tidak memiliki keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya kepada mereka. Aku merasa tidak siap menghadapi reaksi yang diluar ekspektasiku. Aku merasa tidak akan siap melihat ibuku hancur dan (mungkin) merasa bersalah. Aku tidak siap kalau mereka memberikan reaksi penolakan atas apa yang ku ceritakan. Aku hanya ingin didengar.

Sekarang…

Saat ini, aku sudah memasuki semester 10, dan masih berada di jurusan yang sama. Semester ini aku mulai mengerjakan skripsi. Sedikit merasa takjub bahwa akhirnya aku sampai di fase ini. Orangtuaku mulai lega mengetahuinya. Tapi, mereka tidak tahu bahwa masa studiku masih belum benar-benar memasuki tahap akhir. Aku masih memiliki tanggungan di semester 11 nanti. Ini yang ingin ku coba sampaikan pada mereka, entah bagaimana caranya nanti.