Selasa, 30 Oktober 2018
Aku sedang bersiap menuju ke bandara, saat temanku tiba-tiba mengirim pesan singkat. Dia akan mampir sebentar ke kosku, katanya. Sebenarnya aku sedikit keberatan, karena waktu check-in-ku tidak lama lagi. Tapi, apa boleh buat, dia bilang ada yang harus segera disampaikan padaku.
Dia datang dengan membawa stoples mungil terbuat dari kaca. Bagian dalamnya dihias dengan taburan glitter dan terdapat gulungan kertas berwarna hitam dengan pin berbentuk lebah. Leher stoples itu diikat dengan pita. Dia bilang, itu kado ulang tahun untukku. Benar-benar kado yang menarik, meskipun datangnya terlambat tiga bulan haha.
Dia memaksaku untuk segera membuka gulungan kertas yang ada di dalam stoples itu. Aku iyakan saja daripada berdebat dan membuatku tidak bisa segera menuju ke bandara, pikirku. Begitu ku buka gulungan kertas itu dan ku baca isinya, seketika aku menangis. Sesenggukan pula.
“You are perfect just the way you are 🙂 Don’t fight battles that don’t matter. Best wishes for your continued journey!”
Dua bulan ini pikiranku sedang kalut. Berawal dari hari dimana aku membaca e-mail pemberitahuan lolos seleksi program pengabdian, yang justru membuatku minder karena merasa seperti remahan rangginang dibanding relawan lain. Ditambah lagi kebingungan untuk tetap berangkat ke daerah pengabdian dengan resiko studiku akan terkendala, atau merelakan kesempatan itu. Tapi, bukan aku namanya kalau melewatkan kesempatan seberharga itu. Dengan rasa takut, khawatir, dan antusias yang tinggi, aku memutuskan untuk mengambil kesempatan itu.
Dua bulan menahan perasaan yang campur aduk sama sekali bukan hal mudah bagiku. Harus berpura-pura baik-baik saja di depan orang lain. Hanya bisa merasakan emosi yang sebenarnya ketika sedang sendiri di kamar kos. Dan siang ini, beban yang ada di pundakku tiba-tiba terasa seperti meleleh, hanya dengan membaca pesan sesederhana itu. Aku benar-benar menangis, dan sejenak lupa kalau seharusnya aku segera menuju ke bandara.
Minggu, 4 November 2018
Pukul 5 pagi di Indonesia Tengah. Aku terbangun di kamar hotel tempatku menginap bersama dua teman relawanku. Kemarin, kami bertolak dari pulau kecil tempat kami mengabdi, salah satu pulau terluar di bagian selatan Indonesia. Teman-temanku masih tidur.
Sambil menunggu mereka bangun untuk sarapan, ku baca lagi tulisan temanku di gulungan kertas itu. Lalu, ku buka aplikasi pesan singkat di ponselku dan ku cari nama temanku di daftar kontak. Aku harus berterima kasih padanya atas pesan sederhana yang dia berikan. Aku mulai menyusun kata-kata untuknya. Tapi ternyata tidak semudah itu. Aku masih cukup emosional ketika mengingat kembali makna pesannya. Aku menangis lagi. Beruntungnya, tangisku tidak terlihat oleh teman relawanku. Aku sudah merasa lebih tenang ketika mereka bangun.
Tapi, aku kembali ingin menangis saat kami sarapan bersama. Perasaanku campur aduk. Aku masih tidak menyangka kalau minggu ini aku benar-benar telah menginjakkan kaki di salah satu daerah terluar di Indonesia. Bahagia sekali berada dalam tim yang bisa menghargai setiap anggotanya, apapun latar belakangnya. Rasanya seperti mimpi ketika kami (relawan) mendapat apresiasi yang luar biasa baik dari warga lokal di tempat kami mengabdi. Berat rasanya untuk meninggalkan daerah ini. Tapi kami harus pulang dan kembali pada rutinitas kami.
Untuk temanku, terima kasih atas pesan sederhanamu. Terima kasih telah mendengarkan ceritaku, percaya pada mimpiku, dan mendukungku atas pilihan-pilihanku.
Untuk kamu yang membaca cerita ini, terima kasih sudah hadir. Ingat, kamu pun berharga, bagaimanapun keadaanmu. Selamat menempuh perjalanan yang kamu pilih. Aku percaya, kamu pasti bisa sampai ke tujuanmu.